Rabu, 28 Desember 2011

UAS di UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

UAS di UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

            Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang pada semester ganjil sudah memasuki tahap akhir, yaitu berlangsungnya Ujian Akhir Semester (UAS) yang dilaksanakan secara serentak pada hari selasa 27 desember 2011.
            Semua mahasiswa sudah mulai sibuk dengan tugas yang diberikan oleh dosen mereka, ada yang meminjam buku pada teman-temannya dan ada juga yang meminjam buku di Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bentuk UAS pun juga bervariasi, ada yang take home (dikerjakan dirumah), open book (buka buku) dan da juga yang close book (tutup buku). Jadi mahasiswa benar-benar berkonsentrasi penuh dalam menghadapi UAS pada semester ganjil ini.
            Mahasiswa juga ada yang mengeluh dengan tugas yang diberikan oleh dosen, karena mereka tidak bisa berkonsentrasi penuh dengan UAS jika terlalu banyak tugas yang dibebankan kepada mereka. Tetapi sebagai seorang mahasiswa, mereka tidak mudah putus asa dan melaksanakan semua yang sudah menjadi tugas mereka sebagai seorang mahasiswa.

BIOGRAFI SYAIFUL ARIFIN dan ALASAN MENGIKUTI PERKULIAHAN PENDIDIKAN JURNALISTIK

BIOGRAFI SYAIFUL ARIFIN dan ALASAN MENGIKUTI PERKULIAHAN PENDIDIKAN JURNALISTIK

A.    BIOGRAFI SYAIFUL ARIFIN
     Saya adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Teman-teman biasa memanggil Ipul pada waktu dikampus, tetapi kalau berada dirumah biasa dipanggil Arif, nama lengkapnya Syaiful Arifin. Lahir dari 3 bersaudara yang merupakan anak pertama yang dilahirkan di Probolinggo pada 22 tahun silam.
     Memulai mendidikan dari TK, MI, SMP, SMA, dan sampai sekarang masih melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Fakultas Tarbiyah di Jurusan Pendidikan Agama Islam dan sekarang sudah semester tujuh.

B.     ALASAN MENGIKUTI PERKULIAHAN PENDIDIKAN JURNALISTIK
     Alasan mengapa saya mengambil mata kuliah Pendidikan Jurnalistik, karena selain sudah merupakan mata kuliah wajib yang harus diambil oleh semua mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Jurnalistik juga mendidik mahasiswa untuk lebih giat lagi dalam hal melatih membiasakan menulis.
     Mahasiswa juga dilatih untuk memahami isu-isu yang berkembang di masyarakat agar mahasiswa tidak hanya memahami teori yang diajarkan di kampus, tetapi juga harus memahami isu-isu yang berkembang di masyarakat karena setelah lulus dari kuliah, mahasiswa tentunya akan kembali pada kehidupan di masyarakat.

PENGERTIAN PERS dan PENGERTIAN JURNALISTIK

PENGERTIAN PERS dan PENGERTIAN JURNALISTIK

A.    PENGERTIAN PERS
Istilah “Pers” berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa Inggris berarti press. Secara harfiah pers berarti cetak dan secara maknawiah berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi secara dicetak (printed publication).
Dalam perkembangannya pers mempunyai dua pengertian, yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit. Dalam pengertian luas, pers mencakup semua media komunikasi massa, seperti radio, televisi, dan film yang berfungsi memancarkan/menyebarkan informasi, berita, gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain. Maka dikenal adanya istilah jurnalistik radio, jurnalistik televisi, jurnalistik pers. Dalam pengertian sempit, pers hanya digolongkan produk-produk penerbitan yang melewati proses percetakan, seperti surat kabar harian, majalah mingguan, majalah tengah bulanan dan sebagainya yang dikenal sebagai media cetak.
Pers mempunyai dua sisi kedudukan, yaitu: pertama ia merupakan medium komunikasi yang tertua di dunia, dan kedua, pers sebagai lembaga masyarakat atau institusi sosial merupakan bagian integral dari masyarakat, dan bukan merupakan unsur yang asing dan terpisah daripadanya. Dan sebagai lembaga masyarakat ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga- lembaga masyarakat lainnya.
Pers adalah kegiatan yang berhubungan dengan media dan masyarkat luas. Kegiatan tersebut mengacu pada kegiatan jurnalistik yang sifatnya mencari, menggali, mengumpulkan, mengolah materi, dan menerbitkanya berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya dan valid.
Pengertian Pers Menurut Para Ahli
1.      Wilbur Schramm, dkk dalam bukunya “Four Theories of the Press” mengemukakan 4 teori terbesar dari pers, yaitu the authoritarian, the libertarian, the social responsibility, dan the soviet communist theory. Keempat teori tersebut mengacu pada satu pengertian pers sebagai pengamat, guru dan forum yang menyampaikan pandangannya tentang banyak hal yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat.
2.      Menurut Bapak Pers Nasional, Raden Mas Djokomono, Pers adalah yang membentuk pendapat umum melalui tulisan dalam surat kabar. Pendapatnya ini yang membakar semangat para pejuang dalam memperjuangkan hak-hak bangsa indonesia pada masa penjajahan belanda.

B.     PENGERTIAN JURNALISTIK
Pengertian atau definisi jurnalistik sangat banyak. Secara etimologi, jurnalistik berasal dari dua suku kata, yakni jurnal dan istik. Jurnal berasal dari bahasa Perancis, jounal, yang berarti catatan harian. Dalam bahasa Latin, juga ada kata yang hampir sama bunyi dan upacannya dengan journal yakni diurna, yang mengandung arti hari ini.
Secara harfiah, jurnalistik artinya kewartawanan atau hal-ikhwal pemberitaan. Menurut kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis di surat kabar, majalah, dan media massa lainnya.
Dengan demikian, secara etimologis, jurnalistik dapat diartikan sebagai suatu karya seni dalam hal membuat catatan tentang peristiwa sehari-hari. Karya seni dimaksud memiliki nilai keindahan yang dapat menarik perhatian khalayaknya (pembaca, pendengar, pemirsa), sehingga dapat dinikmati dan dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya.
Di dalam istilah jurnalistik juga terkandung makna sebagai suatu seni dan atau keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan informasi dalam bentuk berita secara indah agar dapat diminati dan dinikmati, sehingga bermanfaat bagi segala kebutuhan pergaulan hidup khalayak.
Secara lebih luas, pengertian atau definisi jurnalistik adalah seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifat, pendapat, dan perilaku khalayak sesuaia dengan kehendak para jurnalisnya. (Kustadi Suhandang, 2004 : 21)
Ensiklopedi Indonesia secara rinci menerangkan bahwa jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tengang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.


SEJARAH PERS

SEJARAH PERS

Munculnya Pers sejak zaman Romawi Kuno (59 SM). Sejumlah catatan sejarah menyebutnya sebagai Acta Diurna, semacam jurnal yang beritanya masih ditulis tangan alias tak dicetak.
Sekalipun cikal bakalnya ada di Romawi, koran edisi cetak sendiri ternyata tak muncul di sana untuk kali pertama. Koran edisi cetak pertama justru dikenal di Cina, bernama Di Bao (Ti Bao) yang terbit sekitar tahun 700-an. Tentu, jangan membayangkan bahwa koran itu mulus dan cantik seperti yang kita lihat setiap hari sekarang, sebab Di Bao dicetak dengan menggunakan balok kayu yang dipahat. Hurufnya aksara Cina. Ahli sejarah sepakat bahwa Di Bao adalah koran pertama di dunia yang sudah dicetak.
Selain hurufnya yang masih kasar, bentuk koran zaman dulu juga juga tak seperti sekarang yang terdiri atas berlembar-lembar halaman. Bentuk koran pada zaman dulu masih sangat sederhana, masih berupa lembaran berita atau disebut newssheet.
Dari sisi isi, juga lebih banyak berkaitan dengan dunia bisnis para banker serta pedagang dari Eropa. Termasuk koran berikutnya, Notize Scritte yang terbit di Venesia, Italia. Saat itu, koran lembaran ini biasanya banyak dipasang di tempat umum. Namun, untuk membacanya warga harus membayar 1 gazzeta. Dari sanalah, konon, muncul istilah gazette yang dalam perkembangannya diartikan sebagai koran.
Era kebangkitan koran lantas terjadi menyusul penemuan mesin cetak oleh Johan Gutenbergh pada pertengahan abad XV. Penemuan mesin yang memudahkan proses produksi ini memicu terbitnya koran-koran di Eropa, sekalipun prosesnya tak sekaligus.
Awalnya, lembar berita yang terbit tidak teratur dan memuat cuma satu peristiwa yang saat itu sedang terjadi. Koran berkala muncul tahun 1609 dengan terbitnya mingguan Avisa Relation oder Zeitung di Jerman. Berikutnya terbit pula Frankfurter Journal (1615). Sampai kemudian lahir Leipzeiger Zeitung (1660), juga di Jerman, yang mula-mula mingguan, kemudian jadi harian. Inilah koran harian pertama di dunia.
Koran lainnya yang kemudian muncul adalah The London Gazette yang terbit di Inggris tahun 1665. Namun koran yang pertama terbit secara harian di Inggris adalah The London Daily Courant (1702), disusul The Times yang terbit sejak abad XVII dan yang pertama kali memakai sistem cetak rotasi.

Sejarah Pers di Indonesia
A.      Sejarah Pers Kolonial
Pers Kolonial adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Belanda di Indonesia pada masa kolonial/penjajahan. Pers kolonial meliputi surat kabar, majalah, dan koran berbahasa Belanda, daerah atau Indonesia yang bertujuan membela kepentingan kaum kolonialis Belanda.
B.       Sejarah Pers China
Pers Cina adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Cina di Indonesia. Pers Cina meliputi koran-koran, majalah dalam bahasa Cina, Indonesia atau Belanda yang diterbitkan oleh golongan penduduk keturunan Cina.
C.       Sejarah Pers Nasional
Pers Nasional adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Indonesia terutama orang-orang pergerakan dan diperuntukkan bagi orang Indonesia. Pers ini bertujuan memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia di masa penjajahan. Tirtohadisorejo atau Raden Djokomono, pendiri surat kabar mingguan Medan Priyayi yang sejak 1910 berkembang menjadi harian, dianggap sebagai tokoh pemrakarsa pers Nasional.

Perkembangan Pers Nasional
1.      Zaman Belanda
Pada tahun 1828 di Jakarta diterbitkan Javasche Courant yang isinya memuat berita- berita resmi pemerintahan, berita lelang dan berita kutipan dari harian-harian di Eropa. Sedangkan di Surabaya Soerabajash Advertentiebland terbit pada tahun 1835 yang kemudian namanya diganti menjadi Soerabajash Niews en Advertentiebland.
Di semarang terbit Semarangsche Advertentiebland dan Semarangsche Courant. Di Padang surat kabar yang terbit adalah Soematra courant, Padang Handeslsbland dan Bentara Melajoe. Di Makassar (Ujung Pandang) terbit Celebe Courant dan Makassaarch Handelsbland. Surat- surat kabar yang terbit pada masa ini tidak mempunyai arti secara politis, karena lebih merupakan surat kabar periklanan. Tirasnya tidak lebih dari 1000-1200 eksemplar setiap kali terbit. Semua penerbit terkena peraturan, setiap penerbitan tidak boleh diedarkan sebelum diperiksa oleh penguasa setempat.
Pada tahun 1885 di seluruh daerah yang dikuasai Belanda terdapat 16 surat kabar berbahasa Belanda, dan 12 surat kabar berbahasa melayu diantaranya adalah Bintang Barat, Hindia-Nederland, Dinihari, Bintang Djohar, Selompret Melayudan Tjahaja Moelia, Pemberitaan Bahroe (Surabaya) dan Surat kabar berbahasa jawa Bromartani yang terbit di Solo.
2.      Zaman Jepang
Ketika Jepang datang ke Indonesia, surat kabar-surat kabar yang ada di Indonesia diambil alih pelan-pelan. Beberapa surat kabar disatukan dengan alasan menghemat alat- alat tenaga. Tujuan sebenarnya adalah agar pemerintah Jepang dapat memperketat pengawasan terhadap isi surat kabar. Kantor berita Antara pun diambil alih dan diteruskan oleh kantor berita Yashima dan selanjutnya berada dibawah pusat pemberitaan Jepang, yakni Domei.
Wartawan-wartawan Indonesia pada saat itu hanya bekerja sebagai pegawai, sedangkan yang diberi pengaruh serta kedudukan adalah wartawan yang sengaja didatangkan dari Jepang. Pada masa itu surat kabar hanya bersifat propaganda dan memuji-muji pemerintah dan tentara Jepang.


LAPORAN RADAR MALANG DAN MALANG POS

LAPORAN RADAR MALANG DAN MALANG POS

Dalam Jurnalistik ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengelola dan menyampaikan berita. Seorang  penulis  khususnya Wartawan, dalam meliput berita harus memenuhi kriteri 5W+1H, yaitu: What (Apa), Who (Siapa), When (Kapan),  Why (Kenapa), Where (Dimana) + How (Bagaimana). Dan juga ada unsur-unsur berita yang harus diperhatikan, yaitu: Actual (hal baru), Proximity (kedekatan dengan pembaca), Impact (pengaruh kuat), Magnitude (menyita perhatian), Uniqueness (aneh/unik), Personality (ketokohan), conflick (konflik), dan Human Interest (menyentuh perasaan manusia).
Seorang Wartawan dalam mencari informasi,  berita atau fakta yang terjadi itu harus sedatail-detailnya, apa adanya, tidak dibuat-buat oleh seirang Wartawan tersebut. Setelah itu diolah kemudian diketik kembali dengan kata-kata yang baku. Jadi seorang wartawan itu setelah meliput berita kemudian langsung mengolahnya dengan cara mengetik ulang dari hasil informasi, fakta-fakta yang telah didapat. Untuk hal ini khusus pada Wartawan Radar Malang. Disana terbagi menjadi beberapa bagian yaitu bagian Tim Redaktur, Editor, Lay-Out, Foto Grafer, Desain Grafis, pra-Cetak, dan sebagainya.
Proses selanjutnya yaitu dari Tim Wartawan itu,  khususnya wartawan Radar Malang menyerahkan kepada Tim Redaktur, Untuk diedit kembali hasil berita, informasi, fakta-fakta yang telah didapat. Berasal dari berbagai bidang antara lain Bidang Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan, Politik, Olahraga, dan sebagainya itu diberi batas waktu atau datelain untuk mengumpulkan batas maksimal sampai jam 22.00 WIB. Kemudian melakukan proses pra-Cetak  yang bertempat di Radar Malang. Kemudian pada malam hari  melakukan proses catak asli yang bertempat di daerah Pakis. Dan paginya sudah bisa dibaca dari kalangan masyarakat. Jadi menjadi seorang Wartawan harus berjiwa Sabar, Ulet, Teliti, dan Tanggung Jawab, karena dari pagi meliput berita sampai malam hari masih tetap bekerja. Oleh karena itu, seorang wartawan memiliki banyak jasa dalam memberikan sebuah informasi kepada masyarakat luas pada umumnya.

Sabtu, 24 Desember 2011

LAMPU YANG SETIA MENERANGI ALUN-ALUN KOTA MALANG

Malang, 20 November 2011

LAMPU YANG SETIA MENERANGI ALUN-ALUN KOTA MALANG

            Dari pagi sampai malam, alun-alun kota Malang selalu ramai oleh para pengunjung yang selalu berbondong-bondong untuk menikmati indahnya suasana ditengah kota Malang. Sehingga beragam hiburan dan pemandangan yang unit dapat kita jumpai bila kita berkunjung ke alun-alun kota Malang. 
            Pada pagi dan siang hari hari lampu alun-alun belum dinyalakan karena pemandangan akan terasa sama saja apabila lampu dinyalakan pada pagi dan siang hari, sehingga kita bisa menikmati keindahan lampu alun-alun kota Malang mulai sore sampai malam hari. 
            Menjelang sore, apabila kita berkunjung ke alun-alun kota Malang alangkah begitu indahnya pemandangan yang ada disana karena lampu alun-alun yang setia menerangi pemandangan dan para pengunjung yang datang. Sehingga, meski kita sampai malam berada disana bisa tetap menikmati indahnya pemandangan alun-alun kota Malang.
            Lampu yang berwarna-warni menambah indahnya pemandangan di tengah alun-alun yang tertata begitu rapi dan indah membuat para pengunjung merasa tidak bosan berada disana meski sampai malam berkunjung ke alun-alun kota Malang, karena selalu diterangi oleh lampu alun-alun yang tiada letihnya menerangi pemandangan yang ada disana.
  

BURUNG DARA DI ALUN-ALUN KOTA MALANG

Malang, 20 November 2011

BURUNG DARA DI ALUN-ALUN KOTA MALANG

            Bila kita berkunjung ke alun-alun kota Malang tentu akan mendapat berbagai macam hiburan yang unik, salah satunya adalah burung Dara yang menambah indahnya hiburan yang ada disana. Terlepas dari itu, para pengunjung juga merasa senang melihat burung Dara yang saling berkejaran di atas alun-alun kota Malang.
            Sesekali para pengunjung juga menghampiri burung Dara yang hinggap di dalam alun-alun tapi mereka cuma bisa melihat saja, tidak bisa menangkap burung Dara karena begitu di dekati burung tersebut langsung terbang lagi ke pepohonan dan juga angkasa, sehingga para pengunjung hanya bisa menyaksikan burung Dara bercanda dan berkejaran di angkasa dengan sangat leluasa.
            Hingga menjelang petang datang, burung Dara tetap menambah indahnya pemandangan di angkasa dan di pepohonan yang ada di alun-alun kota Malang. Sehingga para pengunjung merasa tidak bosan bila pergi kesana karena selalu disambut hangat oleh binatang yang satu ini.
            Oleh karena itu, apabila merasa jenuh, alangkah baiknya kita mencoba untuk pergi ke alun-alun kota Malang sekedar untuk menikmati pemandangan dan hiburan yang setia menunggu kita disana setiap hari.
               

MENCARI NAFKAH DI ALUN-ALUN KOTA MALANG

Malang, 20 November 2011

MENCARI NAFKAH DI ALUN-ALUN KOTA MALANG

            Suasana di alun-alun kota Malang sangat ramai baik pada hari libur maupun pada hari yang lain. Dari sinilah banyak orang yang mencari nafkah dibalik keramaian tersebut. Dari depan masjid Agung sudah banyak orang yang berjualan berbagai macam makanan dan minuman, ada yang yang berjualan bakso, soto dan es degan yang berada tepat di depan masjid Agung.
             Bila kita sudah masuk ke dalam alun-alun sudah barang tentu lebih banyak lagi orang yang berjualan disana, dari berbagai mainan anak-anak sampai berbagai aksesoris yang digunakan oleh anak remaja sampai orang dewasa. Bahkan disetiap sudut terdapat orang yang berjualan jangung bakar, mungkin juga dikarenakan sekarang sudah memasuki musim hujan jadi mereka memanfaatkan untuk berjualan makanan tersebut.
            Juga tidak kalah serunya bagi orang yang berjualan kopi, mereka berkeliling memutari alun-alun dengan berjalan kaki membawa dagangannya sambil menanyakan kepada pengunjung yang datang kesana “kopi mas, kopi mbak” kata pedagang kopi yang mencari nafkah di alun-alun kota Malang. Tidak ketinggalan juga para pengamen yang menghibur para pengunjung yang datang sambil mencari nafkah disana dan para pengemis yang juga mencari sedikit belas kasih para pengunjung.
            Mereka berlomba-lomba mencari rizki di alun-alun kota Malang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga dapat melangsungkan kehidupan secara sederhana dengan apa yang sudah mereka usahakan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Jumat, 25 November 2011

Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Meneliti sejarah bangsa Indonesia tidak akan lepas dari umat islam, baik dari perjuangan melawan penjajah maupun dalam lapangan pendidikan. Melihat kenyataan betapa bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam mencapai keberhasilan dengan berjuang secara tulus ikhlas mengabdikan diri untuk kepentingan agamanya disamping mengadakan perlawanan militer
Perlu diketahui bahwa sejarah pendidikan islam di Indonesia mencakup fakta-fakta atau kejadian –kejadian yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam di Indonesia, baik formal maupun non formal. Yang dikaji melalui pendekatan metode oleh sebab itu pada setiap disiplin ilmu jelas membutuhkan pendekatan metode yang bisa memberikan motivasi dan mengaktualisasikan serta memfungsikan semua kemampuan kejiwaan yang material, naluriah, dengan ditunjang kemampuan jasmaniah, sehingga benar-benar akan mendapatkan apa yang telah diharapkan.
2.      Rumusan Masalah
  1. Bagaimana pendidikan islam pada masa penjajahan belanda?
  2. Bagaimana pendidikan islam pada masa penjajahan jepang?
  3. Bagaimana peranan organisasi keagamaan dalam pendidikan islam?

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pendidikan Islam pada masa penjajahan Belanda
Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi (perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial. Berbeda dengan kondisi di negeri Belanda sendiri dimana lembaga pendidikan dikelola secara bebas oleh organisasi-organisasi keagamaan, maka selama abad ke-17 hingga 18 M, bidang pendidikan di Indonesia harus berada dalam pengawasan dan kontrol ketat VOC. Jadi, sekalipun penyelenggaraan pendidikan tetap dilakukan oleh kalangan agama (gereja), tetapi mereka adalah berstatus sebagai pegawai VOC yang memperoleh tanda kepangkatan dan gaji. Dari sini dapat dipahami, bahwa pendidikan yang ada ketika itu bercorak keagamaan (Kristen Protestan). Secara umum sistem pendidikan pada masa VOC dapat digambarkan sebagai berikut:
1.      Pendidikan Dasar
2.      Sekolah Latin
3.      Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari)
4.      Academie der Marine (Akademi Pelayanan)
5.      Sekolah Cina
6.      Pendidikan Islam[1]
Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.
Pada akhir abad ke-18, setelah VOC mengalami kebangkrutan, kekuasaan Hindia Belanda akhirnya diserahkan kepada pemerintah kerajaan Belanda langsung. Pada masa ini, pendidikan mulai memperoleh perhatian relatif maju dari sebelumnya. Beberapa prinsip yang oleh pemerintah Belanda diambil sebagai dasar kebijakannya di bidang pendidikan antara lain:
1)      Menjaga jarak atau tidak memihak salah satu agama tertentu.
2)      Memperhatikan keselarasan dengan lingkungan sehingga anak didik kelak mampu mandiri atau mencari penghidupan guna mendukung kepentingan kolonial.
3)      Sistem pendidikan diatur menurut pembedaan lapisan sosial, khususnya yang ada di Jawa.
4)      Pendidikan diukur dan diarahkan untuk melahirkan kelas elit masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung supremasi politik dan ekonomi pemerintah kolonial.
Maka pada tahun 1901 muncullah apa yang disebut dengan politik ETIS yakni politik balas budi bangsa Belanda kepada Indonesia. Pencetus politik ini adalah Van Deventer, yang kemudian politik ini dikenal juga dengan Trilogi Van Deventer. Secara umum isi dari politik ETIS ini ada tiga macam yaitu, Education (pendidikan), Imigrasi (perpindahan penduduk) dan Irigasi (pengairan). Yang akan dikupas adalah mengenai education atau pendidikan.[2]
Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut:
1)      Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda (ELS, HCS, HIS), sekolah dengan pengantar bahasa daerah (IS, VS, VgS), dan sekolah peralihan.
2)      Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum (MULO, HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan.
3)      Pendidikan tinggi.
Dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan islam pada zaman kolonial belanda tidak mendapat rintangan.hal ini ditandai dengan bermunculanya lembaga-lembaga pendidikan yang semuanya berjalan dengan lancar walaupun terlihat abiturienya tidak bisa diterima oleh mereka dan yakin kalau kesadaran dari pihak islam telah timbul untuk tidak bekerja pada belanda yang telah menjadi perintang kemajuan bangsa. Kenyataan seperti ini sayang msih berlaku sampai sekarang sehingga orang-orang islam kurang berperan dalam pemerintahan. Hal ini tentu penyebabnya adalah melemahnya kekuatan politik islam walaupun islam di indonesia mencapai jumlah yang sangat banyak.[3]
2.      Pendidikan Islam pada masa penjajahan Jepang
Pendidikan islam zaman penjajahan jepang dimulai pada tahun 1942-1945, sebab bukan hanya belanda saja yang mencoba berkuasa di Indonesia. Dalam perang pasifik (perang dunia ke II), jepang memenangkan peperangan pada tahun 1942 berhasil merebut indonesia dari kekuasaan belanda. Perpindahan kekuasaan ini terjadi ketika kolonial belanda menyerah tanpa syarat kepada sekutu.[4] Penjajahan jepang di indonesia mempunyai konsep hokko ichiu (kemakmuran bersama asia raya) dengan semboyan asia untuk asia.[5] Jepang mengumumkan rencana mendirikan lingkungan kemakmuran bersama asia timur raya pada tahun 1940. Jepang akan menjadi pusat lingkungan pengaruh atas delapan daerah yakni: manchuria, daratan cina, kepuluan muangtai, malaysia, indonesia, dan asia rusia. Lingkungan kemakmuran ini disebut dengan hakko I chi-u (delapan benang dibawah satu atap).
Dengan konteks sejarah dunia yang menuntut dukungan militer kuat, Jepang mengelola pendidikan di Indonesia pun tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan di masa pendudukan Jepang sangat dipengaruhi motif untuk mendukung kemenangan militer dalam peperangan pasifik.
Setelah Februari 1942 menyerang Sumatera Selatan, Jepang selanjutnya menyerang Jawa dan akhirnya memaksa Belanda menyerah pada Maret 1942. Sejak itulah Jepang kemudian menerapkan beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi sistem pendidikan di era kemerdekaan. Hal-hal tersebut antara lain:
1.      Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa Belanda
2.      Adanya integrasi sistem pendidikan dengan dihapuskannya sistem pendidikan berdasarkan kelas sosial di era penjajahan Belanda.
Sementara itu terhadap pendidikan Islam, Jepang mengambil beberapa kebijakan antara lain:
1.      Mengubah Kantoor Voor Islamistische Zaken pada masa Belanda yang dipimpin kaum orientalis menjadi Sumubi yang dipimpin tokoh Islam sendiri, yakni K.H. Hasyim Asy’ari.
2.      Pondok pesantren sering mendapat kunjungan dan bantuan pemerintah Jepang;
3.      Mengizinkan pembentukan barisan Hizbullah yang mengajarkan latihan dasar seni kemiliteran bagi pemuda Islam di bawah pimpinan K.H. Zainal Arifin.
4.      Mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta di bawah asuhan K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir dan Bung Hatta.
5.      Diizinkannya ulama dan pemimpin nasionalis membentuk barisan Pembela Tanah Air (PETA) yang belakangan menjadi cikal-bakal TNI di zaman kemerdekaan
6.      Diizinkannya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) terus beroperasi, sekalipun kemudian dibubarkan dan diganti dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menyertakan dua ormas besar Islam, Muhammadiyah dan NU.[6] Lepas dari tujuan semula Jepang memfasilitasi berbagai aktivitas kaum muslimin ketika itu, nyatanya hal ini membantu perkembangan Islam dan keadaan umatnya setelah tercapainya kemerdekaan.
Kepercayaan jepang ini dimanfaatkan juga oleh umat islam untuk bagkit memberontak melawan jepang sendiri. Pada tanggal 8 juli 1945 berdirilah sekolah tinggi islam di Jakarta. Kalau ditinjau dari segi pendidikan zaman jepang umat islam mempunya kesempatan yang banyak untuk memajukan pendidikan islam, sehingga tanpa disadari oleh jepang sendiri bahwa umat islam sudah cukup mempunyai potensi untuk maju dalam bidang pendidikan ataupun perlawanan kepada penjajah. Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
1)   Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
2)   Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
3)   Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
4)   Pendidikan Tinggi.[7]
Disini beberapa tujauan pendidikan islam ketika zaman penjajahan antara lain:
a.    azaz tujuan muhamadiyah: mewujudkan masyarakat islam yang sebenarnya dan azaz perjuangan dakwah islamiyyah dan amar ma’ruf nahi Munkar
b.   INS (Indonesische Nadelanshe School) dipelopori oleh Muhammad syafi’i 1899-1969 bertuan memdidik anak untuk berpikir rasional, mendidik anak agar bekerja sungguh-sungguh, membentuk manusia yang berwatak dan menanam persatuan.
c.    Tujuan Nahdlatul Ulama’, sebelum menjadi partai politik memgang teguh mahzab empat, disamping mejadi kemaslahatan umat islam itu sendiri.
Kesimpulanya ialah bahwa tujuan pendidikan islam yang pertama adalah menanamkan rasa keislaman yang benar guna kepentingan dunia dan Akhirat, dan yang kedua membelah bangsa dan tanah air untuk memdapatkan kemerdekaan bangsa itu sendiri ataupun kemerdekaan secara manusiawi.
3.      Peranan Organisasi Keagamaan dalam Pendidikan Islam
Munculnya organisasi Islam pertama kali di Indonesia adalah sebagai upaya untuk melaksanakan ajaran Islam dan mencerdaskan bangsa.  Salah satu program yang dijalankan oleh setiap organisasi Islam yaitu pada bidang pendidikan.  Beberapa organisasi Islam di masa penjajahan yaitu :
1.      Jamiatul Khair
Al-Jamiatul Khairiyah yang lebih dikenal dengan Jamiatul Khair didirikan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 1905 yang beranggotakan mayoritas kalangan Arab. Program utamanya adalah pendirian dan pembinaan sekolah tingkat dasar serta pengiriman anak-anak muda ke Turki untuk melanjutkan pendidikan namun program ini memiliki hambatan karena kekurangan dan kemunduran kekhalifahan.[8]
Tampilnya Jamiatul Khair sebagai organisasi kegamaan berorintasi pada pembaharuan pendidikan Islam terasa sangat penting karena organisasi ini merupakan organisasi modern dalam masyarakat Islam.  Kemoderenan organisasi ini terlihat dalam anggaran dasar mata pelajaran yang diajarkan bersifat umum, keseluruhan kegiatannya didasarkan pada sistem Barat.
2.      Al Irsyad
Al-Irsyad adalah pecahan dari Jamiatul Khair. Al Irsyad mempunyai tujuan utama yaitu pertama merubah tradisi dan kebiasaan orang-orang Arab tentang kitab suci, bahasa Arab, bahasa Belanda dan bahasa lainnya. Kedua membangun dan memelihara gedung-gedung pertemuan sekolah dan unit percetakan.
Salah satu perubahan yang dilakukan Al Irsyad adalah pembaharuan di bidang pendidikan.  Pada tahun 1913 didirikan sebuah perguruan modern di Jakarta dengan sistem kelas materi pelajaran yang diberikan adalah pelajaran umum di samping pelajaran agama.  Sekolah Al-Irsyad mempunyai cabang dan semuanya berada di tingkat dasar.
3.      Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 10 November 1912 bertepatan dengan 8 Zulhijjah 1330 H oleh K.H. Ahmad Dahlan.  Muhammadiyah merupakan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan kemasyarakatan.  Tujuan didirikannya Muhammadiyah adalah untuk membebaskan umat Islam dari kebekuan dalam segala bidang kehidupan dan praktek agama yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam.
Sebagai organisasi dakwah dan pendidikan, Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat dasar samapai perguruan tinggi.  Muhammadiyah memulai pendirian sekolah dasar pada tahun 1915 di mana pada sekolah tersebut diajarkan pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Pada tahun 1929, Muhammadiyah telah menerbitkan 700.000 buah buku dan brosur.  Pada tahun 1938 telah memiliki 31 perpustakaan umum dan 1774 sekolah.[9]
Muhammadiyah saat ini sebagai organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan mengalami kemajuan pesat hampir di setiap daerah berdiri lembaga pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi.  Di samping itu, Muhammadiyah mendirikan masjid dan rumah sakit untuk masyarakat.
4.      Persatuan Islam (PERSIS)
Persatuan Islam (PERSIS) didirikan secara resmi pada tanggal 12 September 1923 di BAndung oleh sekelompok orang Islam yang berminat dalam studi dan aktivitas keagamaan yang dipimpin oleh Zamzam dan Muhammad Yunus.  Berbeda dengan organisasi lain yang berdiri pada awal abad ke-20, PERSIS mempunyai ciri khas tersendiri di mana organisasi ini di samping pendidikan juga dititikberatkan pada pembentukan faham keislaman.
Perhatian PERSIS terutama dalam menyebarkan cita-cita dan pikirannya, ini dilakukan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan bersama tokoh-tokoh PERSIS, melakukan khotbah-khotbah, membentuk kelompok studi, mendirikan sekolah-sekolah, menerbitkan dan menyebarkan majalah dan kitab.[10]
5.      Nahdatul Ulama (NU)
Nahadatul Ulama (NU) didirikan di Surabaya pada tanggal 13 Januari 1926 yang dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, sebagai perluasan dari komite hijaz yang dibangun untuk dua maksud yaitu pertama untuk mengimbangi komite khilafah yang secara berangsur-angsur  jatuh ke tangan golongan pembaharu. Kedua, untuk berseru kepada Ibnu Sa’ad penguasa baru di tanah Arab agar kebiasaan beragama secara tradisi dapat diteruskan.
Pada awalnya, organisasi ini tidak mempunyai rencana yang jelas kecuali yang bersangkutan dengan masalah pergantian kekuasaan di Hijaz. Tahun 1927 baru tujuan organisasi dirumuskan, di mana organisasi ini memperkuat dan memformulasikan salah satu Madzhab (empat madzhab) untuk melakukan kegiatan yang umumnya berdasarkan ajaran Islam. Kegiatan ini meliputi usaha untuk memperkuat persatuan di kalangan ulama yang berpegang teguh pada Madzhab, pengawasan terhadap pemakaian kitab-kitab di pesantren serta penyebaran agama Islam.
Nahdatul Ulama memberikan perhatian yang besar kepada pendidikan, khususnya pendidikan tradisional yang harus dipertahankan keberadaannya.  Pada awal berdirinya, NU tidak membicarakan secara tegas tentang pembaharuan pendidikan namun demikian NU juga pada dasarnya dalam pembaharuan pendidikan.
Dari uraian yang telah dikemukakan tentang persoalan pendidikan Islam, atas peran dan fungsi organisasi beragama yang lahir untuk membumikan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat muslim pada khususnya.  Hal ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Kondisi Pendidikan Islam pada masa penjajahan cukup banyak mendapat tekanan dari pihak penjajah namun dengan semangat jiwa patriotisme dan semangat jihad di jalan Allah yang dimiliki oleh para pejuang Islam mampu melawan penjajah dengan berbagai cara termasuk penyelenggaraan pendidikan Islam sesuai dengan organisasi keagamaan yang telah dibentuk masing-masing tokoh pendidikan tersebut.
  2. Latar belakang munculnya pendidikan Islam di Indonesia akibat adanya desakan penjajah untuk membatasi gerakan keagamaan dalam bidang pendidikan, di samping itu juga munculnya gerakan pembaharuan pemikiran keagamaan dari tokoh Islam.
  3. Pendidikan Islam sesudah merdeka mendapat perhatian dari Pemerintah terbukti dari segi kualitas dan kuantitas pendidikan, dalam sarana penunjang keberhasilan pendidikan.


BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
Pendidikan islam pada zaman kolonial belanda tidak mendapat rintangan.hal ini ditandai dengan bermunculnya lembaga-lembaga pendidikan yang semuanya berjalan dengan lancar walaupun terlihat abiturienya tidak bisa diterima oleh mereka dan yakin kalau kesadaran dari pihak islam telah timbul untuk tidak bekerja pada belanda yang telah menjadi perintang kemajuan bangsa. Kenyataan seperti ini sayang msih berlaku sampai sekarang sehingga orang-orang islam kurang berperan dalam pemerintahan. Hal ini tentu penyebabnya adalah melemahnya kekuatan politik islam walaupun islam di indonesia mencapai jumlah yang sangat banyak.
Pada masa jepang tujuan pendidikan islam yang pertama adalah menanamkan rasa keislaman yang benar guna kepentingan dunia dan Akhirat, dan yang kedua membelah bangsa dan tanah air untuk memdapatkan kemerdekaan bangsa itu sendiri ataupun kemerdekaan secara manusiawi
Dari uraian yang telah dikemukakan tentang persoalan pendidikan Islam, atas peran dan fungsi organisasi beragama yang lahir untuk membumikan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat muslim pada khususnya.  

REFERENSI

http://anshori-pecintagadis.blogspot.com/2009/04/pendidikan-islam-zaman-penjajahan.html
http://www.taufikrahman.co.cc/2008/11/pendidikan-masa-politik-etis-di.html
Wahab, Rohidin, 2004, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: Alfabeta.
Suwendi, 2004, Sejarah dan pemikiran pendidikan islam. Jakarta : PT grafindo Persada.
Mudyaharjo, Redja, 2001, Pengantar pendidikan, Jakarta : PT grafindo Persada.
Noer, Delian, 1991, Gerakan Modern Islam di Indonesia, Jakarta: LP3ES.
Asrohah, Hanun, 1992. Sejarah Pendidikan Islam Cet : 1;  Jakarta: Logos Wacana Ilmu.






[1] http://anshori-pecintagadis.blogspot.com/2009/04/pendidikan-islam-zaman-penjajahan.html
[2] http://www.taufikrahman.co.cc/2008/11/pendidikan-masa-politik-etis-di.html
[3] Drs Rohidin Wahab,Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Bandung:Alfabeta,2004) hal 17
[4] Suwendi, sejarah dan pemikiran pendidikan islam (Jakarta : PT Grafindo Persada, 2004), hlm.85
[5] Redja Mudyaharjo, pengantar pendidikan (jakarta : PT Grafindo Persada, 2001 ), hlm.267
[6] Suwendi, sejarah dan pemikiran pendidikan islam (Jakarta : PT Grafindo Persada, 2004), hlm.87
[7] http://lena-unindrabioza.blogspot.com/2008/03/pendidikan-zaman-penjajahan.html
[8] Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam (Cet : 1; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1992), hlm.160
[9] Delian Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1991), hlm.95
[10] Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam (Cet : 1; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1992), hlm.160